Nama   : Dyka Indiani

NRP    : E24100042

Laskar 26

Munir adalah tokoh besar dengan reputasi internasional yang amat bersahaja. Kurang dari setahun ini, ia baru memiliki mobil: Toyota Mark II tahun 80-an warna putih, yang ia beli secara mencicil. Sebenarnya, saya dan Ucok Marpaung berusaha agar kantor bisa membeli “mobil dinas” untuknya. Namun, ia berkeras membeli mobil sendiri.

Ia bangga dengan mobil itu, tepatnya pada perangkat CD dan sound system di dalamnya yang ia beli di Bekasi. Tiap kali saya ikut dalam mobilnya, hal pertama yang ia lakukan adalah meraih remote control dan menyetel musik, sering kali keras-keras: U2, Scorpion, Leon Hainess Band, The Bread, Genesis, Metallica, Incognito dan juga Bethoven. “Mobilku tua tetapi di dalamnya aku bisa tidur sambil mendengar musik,” katanya. Bagi saya, itu adalah caranya untuk mensyukuri apa yang ia punya.

Sebelumnya, dari rumah kontrakannya di Bekasi ke kantor kami di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, tiap hari Munir naik sepeda motor bebek. Tiap kali tiba di kantor, ia kelihatan amat lelah, meski tak pernah kelihatan tak bersemangat.

Motor berpelat “N” itu adalah miliknya yang kedua. Motor pertama sempat hilang, namun ketika malingnya tahu motor itu milik Munir, motor itu dikembalikan. Beberapa bulan kemudian motor yang sama dicuri lagi dan tak pernah kembali. “Pasti maling yang ini lebih miskin dari yang sebelumnya,” komentarnya sambil tertawa. Realistis tanpa kehilangan rasa jenaka. Itulah caranya menerima realitas.

Munir dikenal amat jujur. Bahkan, karena kejujurannya, ia sering amat keras pada diri sendiri. Sebagai penerima Right Livelihood Award, ia berhak atas hadiah ratusan juta rupiah. Apa yang dilakukan? “Aku dikenal orang karena penderitaan korban pelanggaran hak asasi manusia,” katanya. “Jadi, aku serahkan uang itu pada KontraS agar bisa terus membela para korban. Aku minta sedikit saja. Biar aku bisa punya rumah sendiri di Malang.”

Suatu hari di tahun 2003 ia harus dirawat karena ginjalnya membengkak. Awalnya ia tidak bersedia dirawat di rumah sakit, namun akhirnya mengalah dan memilih masuk kamar kelas 2. “Yang penting perawatan dan dokternya,” katanya. Saya berkeras memindahkannya ke VIP agar dia bisa beristirahat sendiri di kamar. Dia menolak dan hanya setuju setelah saya ingatkan, tamu-tamu yang menjenguknya terlalu banyak dan mengganggu pasien lain. Saya katakan juga, sebagai orang sakit, tugasnya hanya segera sembuh. “Urusan lain adalah tugas orang yang sembuh.”

Namun, dalam keharusannya untuk beristirahat pun, ia masih bekerja. Suatu malam Bang Mulya menghubungi saya dan menggerutu. “Munir itu membawa laptop ke rumah sakit. Bagaimana dia mau istirahat?” Saya datang malam itu juga dan mengambil laptop yang sedang ia gunakan. Ia diam saja. Namun, belakangan saya dengar dari Suci, istrinya, komentarnya tentang saya, “Aku sekarang punya istri kedua…”.

SEKARANG Munir telah mendahului kita, namun ia sebenarnya tak pernah benar-benar pergi. Dari kesederhanaannya ia telah mewariskan sesuatu yang amat berharga.

He is a truly committed human rights defender. Namun, meski tidak sempat ia selesaikan, Munir juga seorang human rights thinker. Ia bergerak melengkapi dirinya dari seorang aktivis menjadi seorang pemikir. Ia tidak berhenti membaca buku, menulis, dan berdebat. Namun, ketajaman dan orisinalitas gagasannya yang sering mengejutkan, justru ia dapatkan dari pergelutannya yang menantang risiko dengan kasus-kasus pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Munir memberi kita, kepada Indonesia, sebuah standar pencapaian dalam bekerja mempromosikan dan melindungi hak-hak asasi manusia. Mulai sekarang, setiap kali orang membayangkan sosok ideal seorang human rights defender di Indonesia, orang akan selalu merujuk dan membandingkannya dengan Munir. Mulai sekarang, kita semua, tiap orang Indonesia, tak akan meminta kurang dari apa yang telah diberikan Munir.

Nama   : Dyka Indiani

NRP    : E24100042

Laskar 26

Hal pertama yang ada di fikiran para siswa kelas 3 SMA adalah, “mau KULIAH di mana setelah lulus nanti?”. Namun anehnya, fikiran itu tidak terlalu mengusikku. Aku pun tidak pernah dibuat stress oleh fikiran tersebut. Yang aku inginkan adalah membahagiakan kedua orangtuaku, bagaimanapun caranya.

Tidak sedikit teman-teman yang ketika saya ajak bicara pasti berakhir dengan pertanyaan,

“Mau lanjut kuliah di mana dyk, nanti? Kalau aku sih pengen ambil kedokteran gigi di UI.” Aku pun terdiam dan berkata dalam hatiku,

“Ah, iya kalau tercapai. Kalau tidak?”. Fikirku di kala itu yang tidak menyadari pentingnya dari sebuah mimpi.

“Kuliah dimanapun bisa, asal belajar sungguh-sungguh dan bias jadi orang sukses. Ah…rezeki mah gak kemana!” Jawabku ketus.

Ya, setiap kali ada kesempatan untuk ngobrol seperti pada jam istirahat kami ketika itu, topik utama yang selalu dibahas adalah, kuliah dan universitas negeri. Lama-lama aku pun jenuh dengan obrolan teman-temanku saat itu. Aku pun mulai memisahkan diri dari teman-teman ketika mereka sedang membahas topik itu.

Suatu ketika, aku mendengar salah satu temanku berbicara dengan temanku yang lain.

“Pasti orang tuaku bagga, kalau menceritakan aku bisa kuliah di universitas negeri ternama kepada teman kantornya.”. Aku pun hanya terdiam. Aku sadar kalau selama ini aku hanya menginginkan untuk bias membanggakan kedua orang tuaku saja, tanpa dibarengi dengan usaha yang nyata. Saat itu pun aku sadar bahwa keinginan tanpa usaha dan doa tidak akan membuahkan hasil. Dan kesuksesan tidak akan dating dengan sendirinya, Allah pun menyukai hamba-Nya yang berikhtiar dan berdoa.

Aku pun bertekad, di mulai dari hal terkecil aku harus bisa membanggakan kedua orang tuaku. Tapi, bagaimana caranya? Ah! Kuliah di universitas negeri. Tapi.. apa aku bisa?! Universitas negeri? Di mana? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di fikiranku. Sebagai seorang muslim, aku pun shalat meminta petunjuk dari Allah SWT, agar aku bisa menentukan di universitas negeri manakah aku akan melanjutkan pendidikanku. Dan aku pun sadar, bahwa Allah menyukai orang-orang yang optimis. Rasa optimis pun aku tanamkan dalam diriku, bahwa aku bisa kuliah di universitas negeri ternama.

Beberapa hari kemudian, ada penyuluhan dari kakak alumni sekolahku yang telah menjadi mahasiswa IPB, di sekolah. Mereka memberikan informasi seputar Institut Pertanian Bogor. Banyak informasi yang saya terima. Salah satunya, IPB adalah institut pertanian terbesar di ASEAN. Terlebih lagi, Presiden RI pun mendapat gelar doctor dari IPB.

“Ah, jauh sekali kalau harus tinggal di Bogor.” Fikirku. Bagiku sangatlah berat jika harus tinggal berpisah dari kedua orang tuaku. Akhirnya aku urungkan niatku untuk mengambil formulir PMDK IPB pada hari itu. Aku pun berdoa kepada Allah agar diberi petunjuk, apa yang harus saya lakukan.

Keesokan harinya, temanku memberikan formulir PMDK IPB kepadaku.

“Nih, buat kamu aja. Aku gak jadi ikut PMDKnya. IPB bukan tempatku. Terlalu jauh, berat biaya hidupnya. Ayo ambil formulirnya! Daripada harus antre di ruang BK cuma untuk ambil formulir.” kata temanku.

“Aku? Hmmm… ya makasih ya!” jawabku ragu.

Aku pun mengisi formulir itu. Berharap ini adalah pilihan yang tepat untuk melanjutkan pendidikanku setelah SMA. Aku memilih jurusan Ilmu Gizi dan Ekonomi dan Studi Pembangunan. Formulir telah dikirim. Aku menunggu hasilnya dengan tawakal dan berdoa kepada-Nya. Berharap sesuatu hal yang terbaik terjadi kepadaku.

Hari ulang tahunku pun tiba. Alhamdulillah, ku ucap syukur kepada-Nya sebagai tanda terimakasihku karena nikmat-Nya yang diberikan kepadaku selama 17 tahun. Aku pun berdoa di hari itu agar aku bisa diterima menjadi mahasiswi IPB.

Tanggal 12 Februari pun tiba. Kala itu aku sedang berada di rumah temanku untuk mengembalikan uang temanku yang terselip dibukunya yang aku pinjam dua hari yang lalu. Aku pun melihat alarm pengingat di handphone, di situ tercatat, “Aku mahasiswi IPB.” Betapa optimisnya aku saat itu.

Sesampainya di rumah, temanku mengabarkan bahwa aku terpilih sebagai mahasiswi IPB jurusan Teknologi Hasil Hutan. Aku menangis mendengarnya. Karena itu bukanlah jurusan yang semula aku pilih. Lalu aku teringat dengan perjuanganku selama di SMA, belajar giat, untuk mendapat nilai bagus agar bisa mengikuti PMDK di universitas negeri mana pun. Tapi, setelah aku mendapatkannya, apa aku harus membuangnya jauh-jauh? Itu tidak mungkin, terlebih lagi jika aku ingat raut wajah bangga kedua orang tuaku saat aku di terima di perguruan tinggi ternama, IPB. Aku yakin inilah yang terbaik untukku.

Aku pernah meminta kepada Allah, agar diberikan hasil yang terbaik untukku ketika itu. Dan inilah jawabannya, aku menjadi mahasiswi IPB jurusan Teknologi Hasil Hutan dan Alhamdulillah mendapatkan beasiswa BIDI MISI di IPB. Allah tahu mana yang baik dan tidak untuk umat-Nya. Dan aku merasa beruntung bisa diberi kesempatan kuliah di IPB, mengingat banyak teman-teman yang keinginannya untuk kuliah di IPB belum tercapai.